Ngapain Harus Peduli Politik Hukum? Suara Kita, Masa Depan Kita
Oleh: Bidang Hikmah PK IMM Paripatetik
Semarang, 11 Desember 2025 - Pernahkah kita
merasa bahwa hukum dan politik adalah dunia yang jauh, hanya milik para elite
di gedung-gedung tinggi? Atau kita menganggap bahwa urusan peraturan dan
kebijakan adalah tugas pemerintah semata? Kenyataannya, politik hukum menyentuh
hampir setiap aspek kehidupan kita sehari-hari, mulai dari harga sembako, hak
sebagai pekerja, hingga keadilan di lingkungan sekitar. Jika kita abai, kita
secara tak sadar menyerahkan kendali atas hidup kita sendiri.
Kegiatan
diskusi bertajuk "Mengapa Kita Perlu Peduli Politik Hukum?"
diselenggarakan pada hari Rabu, 21 Mei 2025, di Taman Edupark Kampus 2 UIN
Walisongo, Kota Semarang. Acara ini dihadiri oleh sekitar 20 peserta dari
berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, kader imm, hingga alumni.
Diskusi dimulai pukul 16.00 dan berlangsung selama satu jam dengan pemateri wakil
dekan III FISIP, Bapak Dr. H. Mochammad Parmudi M.Si dengan pemantik Satria
Kusuma serta Moderator Vida Septiana.
Dalam
paparannya, Pak Parmudi—sapaan akrabnya menjelaskan bahwa politik hukum adalah
proses bagaimana hukum dibuat, diubah, dan diterapkan—sesuatu yang sangat
dipengaruhi oleh kekuasaan dan kepentingan. "Hukum bukanlah produk yang
netral. Ia lahir dari pergulatan gagasan, tekanan sosial, dan tentu saja,
kepentingan politik," ujarnya.
Sesi tanya
jawab berlangsung interaktif. Salah satu peserta, Haikal, seorang mahasiswa,
berbagi pengalamannya: "Saya sering merasa kebijakan perpajakan kurang
berpihak pada usaha mikro. Ternyata, jika kita tidak ikut menyuarakan kebutuhan
kita, suara kita akan tenggelam." Peserta lain, Firman, seorang aktivis
kampus, menambahkan, "Hukum pendidikan juga hasil politik hukum.
Kurikulum, hak guru, anggaran sekolah—semua itu diputuskan melalui proses
politik yang harus kita awasi."
Kegiatan ini
juga menyoroti bagaimana masyarakat dapat terlibat, mulai dari mengikuti
diskusi publik, menyampaikan aspirasi melalui saluran resmi, hingga menggunakan
hak pilih dalam pemilu untuk memilih wakil yang peduli terhadap reformasi
hukum.
Diskusi ini
menegaskan bahwa politik hukum bukan sekadar wacana, tetapi ruang di mana masa
depan kita diperjuangkan. Dengan memahami dan terlibat, kita bukan hanya
menjadi penonton, tetapi juga pemegang kunci perubahan. Dampak dari acara ini
terasa dari semangat peserta yang mulai menyadari bahwa kepedulian terhadap
hukum adalah bentuk perlindungan terhadap hak-hak dasar sebagai warga negara.
Ke depan, kami berharap dapat menyelenggarakan rangkaian diskusi lanjutan
dengan tema yang lebih spesifik, seperti hukum digital, perlindungan konsumen,
dan keadilan lingkungan. Mari bersama menjaga agar hukum tetap menjadi panglima
bagi keadilan, bukan alat bagi segelintir orang.
Editor: Soffina Putri Hernindiasari, Ammar Halimi
Komentar
Posting Komentar